RSS Feed

Keaktifan Belajar


    1. 1.      Pengertian Keaktifan

Keaktifan berasal dari kata aktif yang berarti giat atau sibuk.[1] Kata keaktifan juga bisa berarti dengan kegiatan dan kesibukan. Yang dimaksud dengan keaktifan disini adalah bahwa pada waktu guru mengajar ia harus mengusahakan agar murid-muridnya aktif  jasmani maupun rohani. Keaktifan jasmani dan rohani itu meliputi:

  1. Keaktifan panca indera

Penglihatan, pendengaran, peraba dan lain-lain. Murid-murid harus dirangsang untuk dapat menggunakan alat inderanya sebaik mungkin. Mendikte atau menyuruh mereka menulis terus sepanjang jam peserta didik akan menjemukan, demikian pula menerangkan terus tanpa menulis sesuatu di papan tulis. Maka pergantian dari membaca ke menulis, menulis ke menerangkan dan seterusnya akan lebih menarik dan menyenagkan.

  1. Keaktifan akal

Akal anak-anak harus aktif atau diaktifkan untuk memecahkan masalah. Menimbang-nimbang, menyusun pendapat dan mengambil keputusan.

 

  1. Keaktifan ingatan

Pada waktu mengajar anak harus aktif menerima bahan pengajaran yang disampikan oleh guru, atau menyimpannya dalam otak.

  1. Keaktifan emosi

Dalam proses pembelajaran peserta didik dituntut untuk aktif,  penilaian proses pembelajaran terutama melihat sejauh mana keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Perihal tentang keaktifan belajar menurut Nana Sudjana diantaranya:

  1. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya
  2. Terlibat dalam pemecahan masalah
  3. Bertanya kepada peserta didik lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya
  4. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah
  5. Melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru
  6. Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya
  7. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis
  8. Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.[2]

Dalam penelitian ini keaktifan peserta didik yang dimaksud oleh penulis, yaitu:

  1. Aktivitas peserta didik yang aktif, meliputi:

1)        Merespon motivasi yang diberikan oleh guru

2)        Membaca atau memahami masalah yang terdapat dalam lembar kerja peserta didik (LKS)

3)        Menyelesaikan masalah atau menemukan jawaban dan cara untuk menjawab

4)        Mengemukakan pendapat

5)        Berdiskusi / bertanya antar peserta didik maupun guru

6)        Mempresentasikan hasil kerja kelompok

7)        Merangkum materi yang telah didiskusikan.

  1. Aktivitas peserta didik yang pasif

Peserta didik dikategorikan pasif apabila peserta didik hanya mendengarkan atau memperhatikan penjelasan guru atau teman, dan juga peserta didik tersebut berprilaku yang tidak relevan. Berdasarkan penjelasan di atas ditentuka criteria pencapaian efektifitas aktivitas peserta didik, aktivitas peserta didik dikatakan aktif, jika presentase aktifitas peserta didik aktif lebih besar daripada presentase aktivitas peserta didik pasif.[3]

 

  1. 2.      Tinjauan Asas Keaktifan
    1. Segi pendidikan

Keaktifan anak dalam mencoba atau mengerjakan sesuatu amat besar artinya dalam pendidikan dan pengajaran. Percobaan-percobaan yang ia lakukan akan memantapkan hasil studinya. Lebih dari itu akan menjadikannya rajin, tekun, tahan uji dan percaya diri sendiri, dalam Al-Qur’an disebutkan:

ù&tø%$# ÉOó™$$Î/ y7În/u‘ “Ï%©!$# t,n=y{ ÇÊÈ   t,n=y{ z`»|¡SM}$# ô`ÏB @,n=tã ÇËÈ   ù&tø%$# y7š/u‘ur ãPtø.F{$# ÇÌÈ   “Ï%©!$# zO¯=tæ ÉOn=s)ø9$$Î/ ÇÍÈ   zO¯=tæ z`»|¡SM}$# $tB óOs9 ÷Ls>÷ètƒ ÇÎÈ

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Q.S. al-Alaq: 1-5)[4]

 

  1. Segi pengamatan

Diantara alat indera yang paling penting untuk memperolah pengertahuan adalah pendengaran dan penglihatan. Akan tetapi bukanlah berarti alat-alat yang lain kurang/tidak penting. Jauh sebelum itu, lima belas abad yang lalu al-Qur’an telah mendidik kita untuk menggunakan alat indera, penglihatan, pendengaran dan lainnya, dalam al’Quran disebutkan:

قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ ثُمَّ انْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ (١١)

Artinya: “Katakanlah: “Berjalanlah di muka bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu. (Q.S. Al-an’am:11).[5]

  1. Segi berfikir

Adalah dimaklumi bahwa seluruh tugas dan kegiatan sekolah memerlukan fikiran. Maka dari itu semua pengajaran harus membentuk fikiran anak. Pendengaran, penglihatan, dan akal harus diusahakan aktif, Allah SWT menegaskan itu dengan firmanNya:

أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ (٤٦)

Artinya: “Maka Apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (Q.S. Al-hajj : 46)[6]

 

 

  1. Segi kejiwaan

Gerakan-gerakan yang dilakukan anak adalah sesuai dengan keadaan dan nalurinya. Dan dengan demikian ia dapat menggunakan alat inderanya dengan baik. Dalam situasi belajar, ia akan lebih menerima dan menguasai bahan jika jasmaniah maupun rohaniah aktif. Dalam proses pembelajaran peserta didik dituntut untuk aktif. Penilaian proses pembelajaran terutama melihat sejauh mana keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran. Perihal tentang keaktifan belajar menurut Nana Sudjana diantaranya :

1)      Turut serta dalam melaksanakan tugas belajarnya.

2)      Terlibat dalam pemecahan masalah.

3)      Bertanya kepada peserta didik lain atau kepada guru apabila tidak memahami persoalan yang dihadapinya.

4)      Berusaha mencari berbagai informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah.

5)      Melaksanakan diskusi kelompok sesuai petunjuk guru.

6)      Menilai kemampuan dirinya dan hasil-hasil yang diperolehnya.

7)      Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah sejenis.

8)      Kesempatan menggunakan atau menerapkan apa yang diperolehnya dalam menyelesaikan tugas atau persoalan yang dihadapinya.[7]

Selanjutnya belajar merupakan proses penting dalam suatu kegiatan memperoleh pendidikan. Belajar merupakan tindakan dan prilaku peserta didik yang kompleks. Sebagai tindakan, maka belajar hanya dialami oleh peserta didik sendiri, untuk itu sebelum mengkaji lebih dalam tentang belajar terlebih dahulu penulis menjabarkan berbagai definisi belajar dari berbagai orang tokoh diantaranya;

Menurut pandangan Piaget belajar adalah pengetahuan yang dibentuk oleh individu, sebab individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan, maka fungsi intelek semakin berkembang.[8]

Pengertian belajar diatas memberikan pengertian bagi kita bahwa belajar ialah tingkah laku yang kompleks yang dimana individu saling berinteraksi, sehingga terjadi perubahan tingkah laku dan fungsi intelektual berkembang.

 

 

  1. 3.      Prinsip-prinsip Belajar Aktif

Ada beberapa prinsip belajar yang dapat menunjang belajar aktif :[9]

  1. Stimulus belajar

Pesan yang diterima peserta didik dari guru melalui informasi biasanya dalam bentuk stimulus. Stimulus hendaknya mengkomunikasikan informasi atau pesan yang hendak disampaikan oleh guru kepada peserta didik. Ada dua cara yang mungkin membantu peserta didik dalam agar pesan tersebut mudah diterima. Pertama, perlu adanya pengulangan sehingga membantu peserta didik dalam memperkuat pemahamannya. Kedua, peserta didik menyebutkan kembali pesan yang disampaikan oleh guru kepadanya.

  1. Perhatian dan motivasi

Ada beberapa cara untuk menumbuhkan perhatian dan motivasi, antara lain melalui cara mengajar yang bervariasi mengadakan pengulangan informasi, memberi stimulus baru, misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan kepada peserta didik, memberi kesempatan kepada peserta didik untuk menyalurkan keinginan belajarnya dan lain-lain.

 

 

  1. Respons peserta didik

Semua bentuk respon yang peserta didik harus menunjang tercapainya tujuan instruksional sehingga mampu mengubah prilakunya seperti tersirat dalam rumusan tujuan instruksional tersebut. Dalam proses belajar mengajar, banyak kegiatan belajar peserta didik yang dapat ditempuh melalui respon fisik (motorik) disamping respon intelektual. Respon-respon inilah yang harus ditumbuhkan pada diri peserta didik dalam kegiatan belajarnya.

  1. Penguatan

Setiap tingkah laku yang diikuti oleh kepuasan terhadap kebutuhan peserta didik akan mempunyai kecenderungan untuk diulang kembali manakala diperlukan. Ini berarti bahwa apabila respon peserta didik terhadap stimulus guru memuaskan kebutuhannya, maka peserta didik cenderung untuk peserta didik tingkah laku tersebut. sumber penguat belajar, berasal dari luar dan dari dalam dirinya. Penguat belajar yang berasal dari luar seperti, nilai, pengakuan prestasi peserta didik dan lainnya. Sedangkan penguat dari dalam dirinya bisa terjadi bila respon yang dilakukan oleh peserta didik betul-betul memuaskan dirinya dan sesuai dengan kebutuhannya.

  1. Pemakaian dan pemindahan

Pikiran manusia mempunyai kesanggupan menyimpan informasi yang tidak terbatas jumlahnya. Dalam hal penyimpanan informasi yang tak terbatas ini penting sekali pengaturan dan penempatan informasi sehingga dapat digunakan kembali apabila diperlukan. Pengingatan kembali informasi yang telah diperoleh tersebut cenderung terjadi apabila digunakan dalam situasi yang serupa. Dengan kata lain, perlu adanya asosiasi. Belajar dengan pembentukan asosiasi dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memindahkan apa yang telah dipeserta didik kepada situasi lain yang serupa pada masa mendatang.


[1] WJS. Purwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka,1986), hlm. 26.

                [2] Nana Sudjana, Metode Statistika, Edisi ke 6, (Bandung : Tarsito, 1996), hlm. 61.

                [3] Setyowati, Penerapan Metode Pembelajaran Kooperatif, Laporan  Penelitian (Surabaya: Perpustakaan Pasca Sarjana UNESA, 2003), hlm.

[4] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Surah al-Alaq: 1-5.

                [5] Al-Qur’an dan Terjemahnya, Surah Al-an’am:11.

                [6] Ibid,. surah Al-hajj: 46.

                [7] Nana Sudjana, Op.Cit., hlm. 61.

                [8]  Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), hlm. 9.

                [9] Sriyono dkk.,  Tehnik  Belajar Mengajar  Dalam CBSA  (Jakarta : PT Rineka Cipta, 1992), hlm. 16.

About IRPAN HARAHAP

saya adalah seorang muslim yang berusaha menjadi insan yang lebih baik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: