RSS Feed

Pendekatan Guru dalam Proses Pembelajaran

  1. 1.      Pengertian Pendekatan Guru

Dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dalam kurikulum, guru perlu melakukan serangkaian kegiatan pembelajaran mulai dari perencanaan, menentukan strategi, pemilihan materi dan metode pembelajaran, sampai pada penilaian. Serangkaian kegiatan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan pendidikan tersebut sering disebut dengan pendekatan  yang dilakukan oleh guru atau pendekatan pembelajaran.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pendekatan adalah proses, cara perbuatan mendekati. Sedangkan guru adalah orang yang pekerjaannya (mata pencahariannya, profesinya) mengajar.[1]

Dengan demikian dapat disimpulkan pendekatan guru adalah proses, cara atau perbuatan mendekati yang dilakukan seorang guru kepada peserta didik untuk menciptakan proses pembelajaran yang efektif dan efisien, dalam mengajar, guru harus pandai menggunakan pendekatan secara arif dan bijaksana, pandangan guru terhadap siswa akan menentukan sikap dan perbuatan. Setiap guru tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam menilai siswa, hal ini akan mempengaruhi pendekatan yang guru ambil dalam pengajaran.

Guru yang memandang siswa sebagai pribadi yang berbeda dengan anak didik lainnya akan berbeda dengan guru yang memandang siswa sebagai makhluk yang sama dan tidak ada perbedaan dalam segala hal, maka sangat penting meluruskan kekeliruan dalam memandang setiap siswa, dalam memandang siswa sebaiknya dipandang bahwa setiap siswa mempunyai kepribadian yang berbeda-beda, sehingga guru dapat dengan mudah melakukan pendekatan pengajaran.[2]

Sedangkan pendekatan pembelajaran menurut Syaiful Sagala merupakan jalan yang akan ditempuh oleh guru dan siswa dalam mencapai tujuan instruksional, pendekatan pembelajaran merupakan aktivitas guru dalam memilih kegiatan pembelajaran, apakah guru akan menjelaskan suatu pengajaran dengan materi bidang studi yang sudah tersusun dalam urutan tertentu, ataukah dengan menggunakan materi yang terkait  satu dengan yang lainnya  dalam tingkatan kedalaman yang berbeda, atau bahkan merupakan materi yang terintegrasi dalam suatu kesatuan multi disiplin ilmu.[3]

 

Pendekatan pembelajaran ini merupakan suatu penjelas mempermudah bagi para guru memberikan pelayanan belajar dan juga mempermudah bagi siswa untuk memahami materi ajar yang disampaikan guru, dengan memelihara suasana pembelajaran yang menyenangkan.

pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu.

 

  1. 2.       Macam-Macam Pendekatan Guru dalam Pembelajaran

Menjadi guru kreatif, profesional, dan menyenangkan dituntut untuk memiliki kemampuan mengembangkan pendekatan dan memilih metode pembelajaran yang efektif. Hal ini penting terutama untuk menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan. Cara guru melakukan sesuatu kegiatan pembelajaran mungkin memerlukan pendekatan dan metode yang berbeda dengan pembelajaran lainnya. E. Mulyasa mengungkapkan  lima pendekatan pembelajaran yang perlu dipahami guru untuk dapat mengajar dengan baik, yaitu: [4]

  1. Pendekatan kompetensi

Kompetensi menunjukkan kepada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pembelajaran dan latihan. Dalam hubungannya dengan proses pembelajaran, kompetensi menunjukkan kepada perbuatan yang bersifat rasional dan memenuhi spesifikasi tertentu dalam proses belajar. Dengan demikian dapat disimpulkan kompetensi merupakan indikator yang menunjukkan kepada perbuatan yang bisa diamati, dan sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta tahap-tahap pelaksanaanya secara utuh. Paling tidak terdapat empat teoritis yang mendasari pendidikan berdasarkan pendekatan kompetensi.

Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran kelompok ke arah pembelajaran individual. Melalui pembelajaran individual siswa diharapkan dapat belajar sendiri, tidak tergantung pada orang lain. Setiap siswa dapat belajar dengan  cara dan berdasarkan kemampuan masing-masing.

Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas (mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan (learning for mastery) adalah suatu falsafah tentang pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik akan dapat belajar dengan hasil yang baik dari seluruh bahan yang diberikan.

Ketiga, landasan teoritis ketiga bagi perkembangan pendidikan berdasarkan kompetensi adalah usaha penyusunan kembali bakat.

Keempat, strategi mencapai kompetensi merupakan strategi untuk membantu siswa dalam menguasai kompetensi yang ditetapkan. Untuk itu dapat dibuat sejumlah alternatif kegiatan, misalnya membaca, mendengarkan, berkreasi, berinteraksi, observasi dan sebagainya sampai terbentuk suatu kompetensi.

Berdasarkan uraian di atas pembelajaran dengan pendekatan kompetensi dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Tahap perencanaan

2)   Pelaksanaan pembelajaran

3)   Evaluasi dan penyempurnaan

Dalam tahap perencanaan pertama-tama perlu ditetapkan kompetensi-kompetensi yang akan diwujudkan dalam kegiatan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran merupakan langkah merealisasikan konsep pembelajaran dalam bentuk perbuatan. Sedangkan evaluasi dan penyempurnaan perlu dilakukan sebagai suatu yang kontiniu untuk memperbaiki pembelajaran dan membimbing pertumbuhan siswa. Dalam kaitannya dengan pembelajaran berdasarkan pendekatan kompetensi, evaluasi dilakukan untuk menggambarkan perilaku hasil belajar dengan respon siswa yang dapat diberikan berdasarkan apa yang diperoleh dari belajar.

  1. Pendekatan keterampilan proses

Pendekatan keterampilan proses merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses belajar, aktivitas, kreativitas siswa dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai, dan sikap, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pengertian tersebut termasuk di antaranya keterlibatan fisik, mental, dan sosial siswa dalam proses pembelajaran untuk mencapai suatu  tujuan.

Pembelajaran berdasarkan pendekatan keterampilan proses perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1)   Keaktifan peserta didik didorong oleh kemauan untuk belajar karena adanya tujuan yang ingin dicapai

2)   Keaktifan peserta didik akan berkembang jika dilandasi dengan pendayagunaan potensi yang dimilikinya.

3)   Suasana kelas dapat mendorong atau mengurangi aktivitas peserta didik. Suasana kelas harus dikelola agar dapat merangsang aktivitas dan kreativitas belajar peserta didik.

4)   Dalam kegiatan pembelajaran, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar melalui bimbingan dan motivasi untuk mencapai tujuan.[5]

 

Pendekatan keterampilan proses bertolak dari suatu pandangan bahwa setiap siswa memiliki potensi yang berbeda, dan dalam situasi yang normal, mereka dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Oleh karena itu tugas guru adalah memberikan kemudahan kepada siswa dengan menciptakan lingkungan yang kondusif agar semua siswa dapat berkembang secara optimal. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan untuk mendorong aktivitas dan  kreativitas peserta didik dalam pembelajaran antara lain: diskusi, pengamatan, penelitian, praktikum, tanya jawab, karya wisata, studi kasus, bermain peran, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menunjang tercapainya tujuan pembelajaran.

  1. Pendekatan lingkungan

Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akan menarik perhatian jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan.

Belajar dengan pendekatan lingkungan berarti siswa mendapatkan pengetahuan dan pemahaman dengan cara mengamati sendiri apa-apa yang ada di lingkungan sekitar, baik di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah. Dalam hal ini siswa dapat menanyakan sesuatu yang ingin diketahui kepada orang lain di lingkungan mereka yang dianggap tahu tentang masalah yang dihadapi. Pembelajaran berdasarkan pendekatan lingkungan dapat dilakukan dengan  cara:

1)   Membawa peserta didik ke lingkungan untuk kepentingan pembelajaran. Hal ini bisa dilakukan dengan metode karya wisata, metode pemberian tugas, dan lain-lain.

2)   Membawa sumber-sumber dari lingkungan ke sekolah untuk kepentingan pembelajaran. Sumber tersebut bisa sumber asli, seperti nara sumber, bisa juga sumber tiruan seperti: model atau gambar.[6]

 

Guru sebagai pemandu pembelajaran dapat memilih lingkungan dan menentukan cara-cara yang tepat untuk mendayagunakannya dalam kegiatan pembelajaran, dan pemilihan tema dan lingkungan yang akan didayagunakan hendaknya didiskusikan dengan siswa.

  1. Pendekatan kontekstual

Pendekatan kontekstual merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan siswa secara nyata, sehingga para siswa  mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pembelajaran kontekstual ada beberapa elemen yang harus diperhatikan yaitu:

a)    Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.

b)   Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagiannya secara khusus(dari umum ke khusus).

c)    Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman.

d)   Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari.

e)    Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.[7]

 

Dalam pembelajaran kontekstual ini tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar pada siswa, dengan menyediakan berbagai sumber belajar yang memadai. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual, dan keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan.

Pembelajaran kontekstual ini juga  mendorong siswa memahami hakekat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka untuk rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar bahkan kecanduan belajar.

  1. Pendekatan tematik

Pendekatan tematik merupakan pendekatan pembelajaran untuk mengadakan hubungan yang erat dan serasi antara berbagai aspek yang mempengaruhi siswa dalam proses belajar. Oleh karena itu pendekatan tematik sering juga disebut pendekatan terpadu.

Pendekatan tematik atau pendekatan terpadu merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang menyatupadukan serangakaian pengalaman belajar, sehingga terjadi saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Pelaksanaan pendekatan tematik secara optimal perlu ditunjang oleh kondisi sekolah sebagai berikut:

1)        Guru mesti berpartisipasi dalam sebuah tim serta mempunyai tanggung jawab untuk mensukseskan tujuan tim.

2)        Guru harus mempunyai kemampuan untuk mengembangkan program pembelajaran tematis pada jadwal yang telah ditentukan.

3)        Peralatan yang diperlukan untuk pelaksanaan pendekatan tematik  harus tersedia, baik di lingkungan  sekolah maupun berupa pinjaman dari luar sekolah.

4)        Pelaksanaan pendekatan tematik harus ada dalam struktur sekolah, sehingga guru dapat menggunakan berbagai saran sekolah yang diperlukan.[8]

 

Pendekatan tematik dapat dilaksanakan oleh seorang guru, jadi semua bahan pelajaran menjadi tanggung jawabnya. Dapat pula dilaksanakan oleh beberapa orang guru secara kolektif, namun harus dilandasi kelancaran komunikasi, semangat kerja sama, dan mengadakan kordinasi yang baik di antara mereka.

Guru yang profesional tidak hanya menguasai sejumlah materi pembelajaran, namun penguasaan pendekatan dan metode  pembelajaran yang tepat dan sesuai mutlak diperlukan. Untuk itu perlu kiranya para guru mampu menggunakan pendekatan dan metode yang tepat agar pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Selain beberapa pendekatan yang telah dikemukakan di atas ada lagi pendekatan pembelajaran yaitu: [9]

  1. Pendekatan individu

Dalam sebuah ruangan kelas terdapat berbagai macam jenis kepribadian peserta didik yang berbeda-beda, hal ini mesti diperhatikan oleh seorang guru agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Perbedaan individu siswa memberikan wawasan kepada guru bahwa strategi pembelajaran harus memperhatikan perbedaan siswa pada aspek individul ini.

Pendekatan indvidual ini mempunyai arti yang sangat penting bagi kepentingan pengajaran. Pengelolaan kelas sangat memerlukan pendekatan individual ini. Dalam pemilihan metode juga seorang guru tidak bisa sembarangan dalam pendekatan individu, sehingga seorang guru dalam proses kegiatan pembelajaran harus memperhatikan individual yang dihadapinya.

  1. Pendekatan kelompok

Dalam kegiatan pembelajaran terkadang guru juga memerlukan pendekatan kelompok, pendekatan kelompok ini diperlukan sewaktu membina dan mengembangkan sikap sosial siswa. Dengan pendekatan kelompok, diharapkan dapat ditumbuh kembangkan rasa sosial yang tinggi pada diri setiap siswa.

Ketika guru ingin menggunakan pendekatan kelompok, maka guru harus mempertimbangkan bahwa hal itu tidak bertentangan dengan tujuan, fasilitas, metode dan bahan yang diberikan.  Dalam pengelolaan kelas terutama berhubungan dengan penempatan siswa pendekatan kelompok sangat diperlukan. Perbedaan individual siswa dijadikan sebagai pijakan dalam melakukan pendekatan kelompok.

  1. Pendekatan bervariasi

Dalam belajar siswa mempunyai motivasi yang berbeda-beda, pada satu sisi siswa mempunyai motivasi yang rendah, tapi pada saat yang lain siswa mempunyai motivasi yang tinggi. Dalam mengajar, guru yang hanya menggunakan  satu metode biasanya sukar menciptakan suasana kelas yang kondusif dalam waktu yang relatif lama. Bila terjadi perubahan suasana kelas, sulit menormalkannya kembali.

Pendekatan bervariasi ini bertolak dari konsepsi bahwa permasalahan yang dihadapi oleh setiap siswa dalam belajar bermacam-macam. Kasus yang biasanya muncul dalam pengajaran dengan berbagai motif, sehingga diperlukan variasi teknik pemecahan untuk setiap kasus.

  1. Pendekatan edukatif

Apapun yang dilakukan guru dalam pendidikan dan pengajaran dengan tujuan mendidik, bukan karena motif-motif lain. Dalam pendekatan edukatif ini tujuannya adalah untuk membina watak siswa dengan pendidikan yang bersifat positif.

 

  1. 3.      Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pendekatan Pembelajaran

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pendekatan pembelajaran, yaitu:

  1. Strategi pembelajaran.

Secara umum strategi mempunyai pengertian sebagai suatu garis besar haluan dalam bertindak untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan. Kata “strategi” jika kita kaitkan dengan peperangan maka dapat diartikan dengan seni dalam merancang (operasi) peperangan. Dewasa ini istilah strategi banyak dipinjam oleh bidang-bidang ilmu lain, temasuk bidang ilmu pendidikan. Dalam kaitannya dengan proses pembelajaran, pemakaian istilah strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru dalam menciptakan suatu sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses mengajar.[10]

 

Kemp, yang dikutip Wina Sanjaya bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.[11]

Strategi pembelajaran dapat dikatakan sebagai pilihan pola kegiatan pembelajaran yang diambil untuk mencapai tujuan secara efektif. Untuk melaksanakan tugas secara profesional, guru memerlukan wawasan yang luas mengenai strategi pembelajaran.

Menurut Newman dan Logan dalam buku strategi belajar mengajar karangan Abu Ahmadi & Joko Prasetyo, mengungkapkan strategi dasar arti setiap usaha meliputi empat masalah, yaitu:

1)      Pengidentifikasian dan penetapan spesifikasi dan kualifikasi hasil yang harus dicapai dan menjadi sasaran usaha tersebut, dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang memerlukannya.

2)      Pertimbangan dan pemilihan pendekatan utama yang ampuh untuk mencapai sasaran.

3)      Pertimbangan dan penetapan langkah-langkah yang ditempuh sejak awal sampai akhir.

4)      Pertimbangan dan penetapan tolak ukur dan ukuran baku yang akan dipergunakan untuk menilai keberhasilan usaha yang dilakukan.[12]

 

Jika diterapkan dalam konteks pendidikan, keempat strategi dasar tersebut bisa diterjemahkan menjadi:

1)      Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian peserta didik sebagaimana yang diharapkan.

2)      Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.

3)      Memilih dan menetapkan prosedur, metode, teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat dijadikan pegangan oleh para guru dalam kegiatan mengajarnya.

4)      Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan atau kriteria dan standar keberhasilan sehingga dapat dijadikan pedoman oleh guru dalam melakukan evaluasi hasil kegiatan belajar mengajar, yang selanjutnya menjadi umpan balik bagi penyempurnaan sistem, instruksional yang bersangkutan secara keseluruhan.[13]

 

Menurut Tabrani Rusyan dkk dalam buku strategi belajar mengajar karangan Abu Ahmadi & Joko Prasetyo, mengungkapkan Ada beberapa penggolongan strategi pembelajaran, yaitu:

1)      Konsep dasar strategi belajar mengajar

2)      Sasaran kegiatan belajar

3)      Belajar mengajar suatu sistem

4)      Hakikat proses belajar

5)      Entering behavior siswa

6)      Pola-pola belajar siswa

7)      Pemilihan sistem belajar mengajar

8)      Pengorganisasian kelompok belajar.[14]

 

  1. Metode pembelajaran.

Permasalahan yang sering terjadi dalam pengajaran adalah bagaimana cara menyajikan materi kepada siswa secara baik sehingga diperoleh hasil yang efektif dan efisien. Di samping itu masalah yang sering dijumpai juga kurangnya perhatian guru terhadap variasi penggunaan metode mengajar dalam upaya peningkatan mutu pengajaran secara baik.

Sebagai alternatif jawaban terhadap masalah-masalah tersebut sangat diperlukan pengkajian secara kontiniutas dan mendalam tentang metode pengajaran yang digunakan. Bertitik tolak pada pengertian metode pengajaran, yaitu suatu cara penyampaian bahan pelajaran untuk mecapai tujuan yang ditetapkan, maka fungsi metode mengajar tidak dapat diabaikan, karena metode mengajar tersebut turut menentukan berhasil tidaknya suatu proses belajar mengajar dan merupakan bagian yang integral dalam suatu sistem pengajaran.[15]

Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektivitas dan efisiensi pembelajaran. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi siswa. Penggunaan metode yang bervariasi akan membantu  siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta menekankan pada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan.

Sesuai dengan  pendekatan seperti yang telah dibahas diatas, metode pembelajaran harus dipilih dan dikembangkan untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa. Banyak sekali metode yang dapat dilakukan seorang guru dalam menyampaikan sebuah materi, yaitu:

1)      Metode ceramah

2)      Metode tanya jawab

3)      Metode diskusi

4)      Metode pemberian tugas

5)      Metode resitasi

6)      Metode demonstrasi

7)      Metode eksperimen

8)      Metode sosiodrama dan bermain peran

9)      Metode bekerja dalam kelompok

10)  Metode proyek

11)  Metode problem solving

12)  Metode karya wisata

13)  Metode film-strips

14)  Metode manusia sumber/resource people. [16]

 

Akan tetapi yang akan diuraikan dalam penelitian ini hanyalah metode resitasi/ pemberian tugas sesuai dengan judul penelitian ini.

Metode resitasi biasa disebut metode pekerjaan rumah, karena siswa-siswi diberi tugas khusus di luar jam pelajaran. Sebenarnya penekanan metode ini terletak pada jam pelajaran berlangsung, siswa disuruh untuk mencari informasi atau fakta-fakta berupa data yang dapat ditemukan di laboratorium, perpustakaan, di rumah siswa, pusat sumber belajar, atau di mana saja asal tugas itu dapat dikerjakan.

Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak, sementara waktu yang disediakan cuma sedikit. Artinya banyaknya bahan pelajaran yang tersedia dengan waktu yang kurang seimbang. Agar bahan pelajaran selesai pada batas waktu yang ditentukan, maka metode inilah yang biasa digunakan oleh seorang guru untuk mengatasinya.

Agar metode ini bisa berlangsung secara efektif, guru perlu memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:

1)   Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis, terutama tujuan penugasan  dan cara pengerjaannya. Sebaiknya tujuan penugasan dikomunikasikan pada peserta didik agar tahu arah tugas yang akan dikerjakannya.

2)   Tugas yang diberikan harus dapat dipahami oleh peserta didik, kapan mengerjakannya, bagaimana cara mengerjakannya, secara individu atau kelompok dan lain-lain. Hal tersebut akan menentukan efektifitas penggunaan metode ini dalam pembelajaran.

3)   Apabila tugas tersebut berupa tugas kelompok, perlu diupayakan agar seluruh anggota kelompok dapat terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut.

4)   Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyelesaian tugas yang dikerjakan oleh peserta didik. Jika tugas tersebut di selesaikan di luar kelas, guru bisa mengontrol proses penyelesaian tugas melalui konsultasi dari peserta didik.

5)   Berikanlah penilaian secara operasional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik. Penilaian yang diberikan sebaiknya  tidak hanya menitik beratkan pada produk, tetapi perlu dipertimbangkan pula bagaimana proses penyelesaian tugas tersebut. Penilaian hendaknya diberikaan secara langsung setelah tugas diselesaikan, hal ini dilakukan disamping menimbulkan minat dan semangat belajar peserta didik, juga menghindarkan bertumpuknya pekerjaan peserta didik yang harus diperiksa.[17]

 

Banyak sekali para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam menggunakan metode ini selain beberapa langkah yang telah disebutkan di atas dan yang senada dengan pendapat tersebut, antara lain:

1)        Memberikan bimbingan.

2)        Memberikan dorongan sehingga peserta didik mau mengerjakan tugas yang diberikan.

3)        Diusahakan dikerjakan oleh siswa itu sendiri, tidak menyuruh orang lain.

4)        Dianjurkan agar siswa mencatat hasil-hasil yang ia peroleh dengan baik dan sistematik.[18]

Metode ini juga dilakukan apabila guru mengharapkan pengetahuan yang diterima siswa lebih mantap, dan mengaktifkan mereka dalam mencari atau mempelajari suatu masalah dengan lebih banyak membaca, mengerjakan sesuatu secara langsung. Metode ini sangat sesuai dengan pendekatan belajar siswa aktif yang dikenal dengan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) yang saat ini sedang dikembangkan di sekolah-sekolah. Metode ini cocok digunakan bilamana:

1)      Ditujukan untuk mendapatkan keterampilan khusus dalam mengerjakan sesuatu.

2)      Untuk memantapkan pengetahuan yang telah diterima oleh para siswa.

Yang menjadi keunggulan metode ini yaitu:

1)      Siswa lebih banyak mengalami sendiri apa yang dipelajarinya, sehingga memperkuat daya retensi mereka.

2)      Sangat berguna untuk mengisi kekosongan  waktu agar siswa dapat melakukan hal-hal yang bersifat konstruktif.

3)      Siswa lebih aktif dan memiliki rasa tanggung jawab.

Sedangkan yang menjadi kelemahan metode ini adalah:

1)      Dapat menimbulkan keraguan, karena adanya kemungkinan pekerjaan yang diberikan kepada peserta didik justru dikerjakan oleh orang lain.

2)      Guru sering mengalami kesukaran dalam pemberian tugas yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa, karena adanya perbedaan kemampuan individual, intelegensi, dan kematangan masing-masing individu.

3)      Bilamana tugas terlalu dipaksakan dapat mengganggu kestabilan dan pikiran sisiwa.[19]

 

Selain beberapa kelebihan dan kelemahan yang disebutkan di atas ada lagi kelebihan dan kelemahan dari metode ini, seperti yang dikemukakan oleh Saifu Bahri Djamarah, yaitu:

1)        Kelebihannya

a)      Lebih merangsang siswa dalam melakukan aktivitas belajar individual ataupun kelompok.

b)      Dapat mengembangkan kemandirian siswa diluar pengawasan guru.

c)      Dapat membina tanggung jawab dan disiplin siswa.

d)     Dapat mengembangkan kreativitas siswa.

2)        Kekurangannya

a)      Siswa sulit dikontrol, apakah benar dia sendiri yang mengerjakan tugas atau malah orang lain.

b)      Tidak mudah memberikan tugas yang sesuai dengan perbedaan individu siswa.

c)      Sering memberikan tugas yang monoton dapat menimbulkan kebosanan (tidak bervariasi)siswa

d)     Khusus untuk tugas kelompok, tidak jarang yang aktif mengerjakan dan menyelesaikannya adalah anggota tertentu saja, sedangkan anggota yang lainnya tidak ikut berpartisipasi.[20]

 

Sebagai pedoman pengguna metode ini ada beberapa fase yang perlu diperhatikan. Ada beberapa fase dalam dalam melakukan metode pemberian tugas ini, yaitu: Fase pertama: tahap pemberian tugas yang menyangkut:

1)      Tujuan harus dirumuskan secara spesifik.

2)      Tugas-tugas yang diberikan jelas arahnya.

3)      Para siswa diberikan petunjuk-petunjuk  dalam pelaksanaannya untuk menghindari kebingungan mereka.

4)       Pemusatan perhatian para siswa pada hal-hal yang pokok dengan tidak menghilangkan aspek-aspek lainnya yang berkaitan.

Fase kedua, tahap belajar  yakni, siswa melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan dan petunjuk yang diberikan oleh guru. Fase ketiga, yaitu tahap resitasi di mana siswa bertanggung jawab atas tugas yang telah dikerjakannya.[21]

  1. Materi pembelajaran.

Materi pembelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses pembelajaran. Tanpa materi pembelajaran proses pembelajaran tidak akan jalan. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti memiliki dan menguasai materi pelajaran yang akan disampaikan kepada siswa. Ada dua persoalan dalam menguasai bahan pelajaran ini, yaitu:

1)      Penguasaan materi pelajaran pokok

Materi pelajaran pokok adalah materi pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya (disiplin keilmuannya).

2)      Materi pelajaran pelengkap.

Materi pelajaran pelengkap atau penunjang adalah materi pelajaran yang dapat membuka wawasan seorang guru agar dalam mengajar dapat menunjang penyampaian materi pelajaran pokok.[22]

Dalam suatu bidang studi selalu ada struktur ilmu yang pasti. Karena itu pokok bahasan menolong dalam rumusan tujuan instruksional. Sebaliknya tujuan dapat dinyatakan lebih dahulu, karena dapat diturunkan dari tujuan umum pokok bahasan, kemudian perincian isi bahan pelajaran dapat diturunkan dari tujuan instruksional khusus, tujuan pembelajaran khusus, tujuan perilaku, atau sasaran belajar.

Isi dari materi pembelajaran adalah seleksi dan organisasi pengetahuan tertentu (seperti fakta dan informasi), keterampilan tertentu (seperti prosedur selangkah demi selangkah, kondisi dan persyaratan) dan sikap setiap pokok pembahasan.

Dalam memperhatian tujuan pembelajaran, kita mengkaji kategori perilaku belajar seperti yang diusulkan Gagne yang dikutip A. Tresna Sastrawijaya, yaitu: [23]

1)      Fakta

Informasi fakta (penanaman, pemberian etiket, dan uraian sederhana suatu kejadian atau suatu benda), memberikan dasar pengetahuan tentang benda atau pokok bahasan. Bila sejumlah fakta dapat diidentifikasikan mempunyai sifat-sifat umum bersama, maka kita sampai kepada konsep.

2)      Konsep

Suatu konsep kursi merupakan tempat duduk yang mungkin berkaki empat, tiga atau satu. Struktur politik suatu negara mungkin berbeda-beda tapi kita kenal dengan konsep. Konsep merupakan hasil mengorganisasikan informasi menuju struktur yang bermakna.

3)      Prinsip

Hubungan antara dua konsep atau lebih dinamakan perumusan atau suatu prinsip. Misalnya: ”udara panas mengembang” didasarkan pada konsep molekul dan gerak ”rancangan artistik berselera” menggunakan konsep kesatuan, kesederhanaan, tekanan, dan keseimbangan.

4)      Pemecahan masalah

Setelah siswa belajar suatu prinsip, mereka harus belajar dengan pemecahan masalah. Hal ini meminta siswa untuk:

a)      Menjelaskan peristiwa

b)      Menduga sebabnya

c)      Meramalkan akibatnya

d)     Mengendalikan situasi.

 

  1. Media pembelajaran.

Kata media berasal dari bahasa Latin yaitu “medius yang secara harfiah berarti tengah, perantara atau pengantar. Dalam bahasa Arab media adalah (و سا نل )  atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan”.[24] Sejalan dengan pengertian di atas, Wina sanjaya menjelaskan bahwa media merupakan jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar.[25]

Sejalan dengan defenisi media maka kegunaan media pembelajaran yang dimaksudkan di atas, Nana Sudjana dan Ahmadi Rivai menjelaskan manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar adalah sebagai berikut:

1)      Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar.

2)      Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya sehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuan pembelajaran lebih baik.

3)      Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga komunikasi siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi guru mengajar untuk setiap jam pelajaran.

4)      Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar, sebab tidak hanya mendengarkan uraian dari guru, tetapi juga aktifitas lain, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan dan lain-lain.[26]

 

Selain yang dikemukakan di atas, penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan hasil pengajaran, terutama yang berkaitan dengan taraf berpikir siswa, sejalan dengan hal ini Nana Sudjana dan Ahmad Rivai mengemukakan: taraf berfikir manusia mengikuti tahap perkembangan dari berfikir konkrit menuju ke berpikir abstrak, di mulai dari berfikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berfikir tersebut sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat dikonkretkan dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.[27]

Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan dan tentunya juga akan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Dilihat dari jenisnya media dapat dibagi kepada: “media auditif, media visual dan media audio visual”.[28]

Lebih jelasnya berikut diuraikan secara singkat tentang jenis-jenis media pembelajaran, yaitu:

1)      Media auditif

Media auditif adalah media yang hanya menghandalkan kemampuan suara saja. Media ini berkaitan denga indra pendengaran. “pesan yang akan disampaikan dituangkan kepada lambang-lambang auditif, baik verbal (kata-kata dan bahasa lisan) maupun nonverbal. Media audio meliputi radio, alat perekam pita magnetik (tape recorder) piring hitam dan laboratorium bahasa”.

2)      Media visual

Media visual ini adalah pesan yang disampaikan dituangkan ke dalam simbol-simbol kemunikasi visual (menyangkut indra pengelihatan). Media visual ini meliputi: gambar/foto, sketsa, gambar, kartun, poster, peta/globe, papan panel dan papan buletin.

3)      Media audio visual

Media audio visual adalah media yang mempunyai unsur suara dan gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua, media ini dibagi kedalam dua bahagian:

a)      Audiovisual diam

b)      Audiovisual gerak.[29]

  1. Evaluasi pembelajaran.

Guba dan Lincoln mendefenisikan yang dikutip Wina Sanjaya, evaluasi itu merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan, atau sesuatu kesatuan tertentu.[30]

Evaluasi merupakan proses yang sangat penting dalam kegiatan pendidikan formal, karena bagi guru evaluasi dapat menentukan efektivitas kinerja selama ini, sedang bagi pengembang kurikulum evaluasi dapat memberikan informasi untuk memperbaiki kurikulum yang sedang berjalan. Ada beberapa fungsi evaluasi, yaitu:

1)      Evaluasi merupakan alat yang penting sebagai umpan balik bagi siswa. Melalui evaluasi siswa akan mendapatkan informasi tentang efektivitas pembelajaran yang dilakukannya.

2)      Evaluasi merupakan alat yang penting untuk mengetahui bagaimana ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah ditentukan.

3)      Evaluasi dapat memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum.

4)      Informasi dari hasil evaluasi dapat digunakan oleh siswa secara individual dalam mengambil keputusan, khususnya untuk menentukan masa depan sehubungan dengan pemilihan bidang pekerjaan serta pengembangan karier.

5)      Evaluasi berguna untuk para pengembang kurikulum khususnya dalam menentukan kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai.

6)      Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik untuk semua pihak yang berkaitan dengan pendidikan di sekolah.[31]


[1]Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi ketiga, (Jakarta: Balai Pustaka, 2001), hlm.  246.

 

[2]  Syaiful Bahri Djamarah. Guru dan Anak Didik, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2005), hlm. 5-6.

[3] Syaiful Sagala. Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2009), hlm. 68.

[4] E. Mulyasa. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2008), hlm. 96-106.

[5] Ibid., hlm. 100-101.

[6] Ibid., hlm. 102.

[7] Ibid., hlm. 104.

[8] Ibid., hlm. 105.

[9] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), hlm. 54-69.

[10] Abu Ahmadi & Joko Prasetyo. Strategi Belajar Mengajar, (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 11.

[11] Wina Sanjaya. Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Kencana, 2008), hlm. 294.

[12] Abu Ahmadi & Joko Prasetyo. Op.Cit., hlm. 12.

[13] Abu Ahmadi & Joko Prasetyo. Loc.,Cit.

[14] Ibid., hlm. 15.

[15] Basyiruddin Usman. Metodologi Pembelajaran Agama Islam, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), hlm. 31.

[16] Roestiyah N.K. Didaktik Metodik, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), hlm. 67.

[17] E. Mulyasa. Op.Cit., hlm. 113.

[18] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Op.Cit., hlm.86.

[19] Basyiruddin Usman. Op.Cit., hlm. 48.

[20]  Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Op.Cit., hlm. 87.

[21] Basyiruddin Usman. Op.Cit., hlm. 48-49.

[22] Saiful Bahri Djamarah & Aswin Zain. Op.Cit., hlm. 43.

[23] A. Tresna Sastrawijaya. Pengembangan Program Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hlm. 72-74.

[24] Azhar Arsyad. Media Pembelajaran, (Jakarta: Raja Wali Pers, 2007), hlm. 3.

[25] Wina Sanjaya. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, (Jakarta: 2008), hlm. 163.

[26] Nana Sudjana dan Ahmadi Rivai. Media Pembelajaran, (Jakarta: Sinar Baru Algesindo, 2007), hlm 2.

[27] Ibid., hlm. 3.

[28]  Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain. Op.Cit., hlm. 140-141.

[29] Syaiful Bahri Djamarah & Aswan Zain. Op.Cit., hlm. 124-125.

[30] Wina Sanjaya. Op.Cit., hlm. 335.

[31] Ibid., hlm. 339.

About IRPAN HARAHAP

saya adalah seorang muslim yang berusaha menjadi insan yang lebih baik

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: